Dr. dr. Kadek Budi Santosa, Sp.U., Subsp. F.F.N.(K) ; dr. Fina Widia, Sp.U., Subsp. F.F.N.(K) ; dr. Parsaoran Nababan, Sp.U., Subsp. T.R.K.(K) ; dr. Andika Afriansyah, Sp.U., Subsp. F.F.N.(K) ; dr. Caesar Khairul Wallad, Sp.U., Subsp. T.R.K.(K) ; dr. Edi Wibowo, Sp.U., FICS ; dr. Tetuka Bagus Laksita, Sp.U., M.Med.Klin ; dr. Khoirul Kholis, Sp.U., Subsp. F.F.N.(K) ; dr. Ronald Sugianto ; dr. Rosa Mandasari ; Prof. dr. Harrina Erlianti Rahardjo, Sp.U., Subsp. F.F.N.(K), Ph.D
2026
47
15x21
Secara klinis, fistula urogenital ditandai dengan komunikasi patologis yang memicu kebocoran urin atau gangguan siklik pada perempuan, yang berdampak luas pada kesejahteraan psikososial dan seksual. Penanganannya memerlukan standarisasi bedah yang ketat. Perlu diperhatikan bahwa latar belakang etiologi pasien sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-ekonomi; cedera iatrogenik pasca-bedah pelvis lebih sering ditemukan pada negara berpendapatan tinggi, sedangkan fistula obstetrik tetap menjadi tantangan utama di negara dengan akses kesehatan terbatas.